Kamis, 06 Desember 2018

DPD PARKINDO:Pemda Harus Serius Sikapi Persoalan Mahalnya Harga Tiket Pesawat

Lapalelo: Pemda Harus Serius Sikapi Persoalan Mahalnya
Harga Tiket Pesawat

Ambon, Bedahnusantara.com: Fenomena kenaikan harga tiket pesawat yang luar biasa mahalnya memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat yang ada di Indonesia terkhusus bagi masyarakat yang berada pada Indonesia bagian timur (Maluku dan Papua).

Berdasarkan data dari fenomena tersebut, diketahui harga tiket pesawat menjelang perayaan Natalan dan Liburan Tahun Baru ini, sungguh sudah melebihi ambang batas.

Beberapa maskapai yang dominan dipergunakan untuk berpergian misalnya, didapati menempatkan harga tiket per sekali penerbangan ditas ambang batas normal.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partisipasi Kristen Indonesia (PARKINDO) Provinsi Maluku, Edison Lapalelo kepada media ini Rabu (05/12) melalui telephone.

Menurutnya, fenomena kenaikan harga tiket ini sungguh sangat menghawatirkan terutama bagi kalangan menengah kebawah, dan juga bagi kalangan pelajar atau mahasiswa yang sementara melanjutkan studinya diluar Maluku dan Papua, yang hendak kembali kesana dalam rangka perayaan Natal dan Tahun baru.

" fenomena ini sungguh sangat diluar kewajaran, sebab sesuai data, biasanya Maskapai Lion Air, Penerbangan dari Ambon- Jakarta atau sebaliknya, harga tiketnya berkisar antara Rp. 1,1 juta sampai dengan Rp. 1,2 Juta. Untuk Maskapai Batik Air dengan rute yang sama, biasanya harga tiket normalnya berkisar pada Rp. 1,3 Juta s/d Rp. 1,4 Juta. Sedangkan maskapai Garuda dengan rute yang sama, biasanya berkisar antara Rp. 1,8 Juta. Akan tetapi kali ini sungguh diluar batas" jelasnya.

Ditambahkannya, "saya kemarin berangkat dari Ambon menuju Jakarta tertanggal 01 Desember saja harga tiket Batik Air mencapai Rp. 2,7 Juta. Dan belum tahu bagaimana kalau baliknya" Ungkap Lapalelo.

Oleh sebab itu kata Lapalelo, saya selaku Ketua DPD PARKINDO Maluku saya mendesak dan memintakan kepada semua pemangku kewenangan yang ada baik di Nasional maupun di daerah untuk dapat memperhatikan akan hal ini.

" saya minta pemerintah dapat memperhatikan masalah ini, sebab hal ini berkaitan dengan arus  mudik menjelang Natalan dan Tahun Baru. Dan berdasarkan data kami, animo dan jumlah penumpang yang ingin mudik ke Indonesia timur terutama Maluku dan Papua itu sangat tinggi, akan tetapi kemudian terkendala dengan masalah harga tiket yang sudah luar biasa parah mahalnya".

Untuk pulang ke Ambon saja, lanjutnya, harga tiket Lion Air sudah pada kisaran Rp. 2,7 Juta, dan Batik Air pada kisaran Rp. 2,8 Juta, bahkan Garuda sudah mencapai Rp. 4,1 Juta.

" Hal ini bagi sebagian kalangan yang mampu, mungkin dianggap biasa, akan tetapi bagaimana nasib para pelajar dan mahasiwa asal Maluku atau Papua, yang ingin pulang kekampung halaman untuk merayakan Natal dan Tahun baru bersama keluarga? Apakah hal ini tidak sangat memberatkan mereka?. Olehnya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, sebab dapat memberikan pendidikan buruk dan semakin memperbiasakan maskapai menaikan harga tiket sesuka hati, tanpa  memikirkan nasib masyarakat," Ujarnya.

Lebih jauh dijelaskannya, jika kemudian yang berpergian adalah para pejabat, atau birokrat. Hal itu tentunya tidaklah memberatkan mereka, sebab seluruh biaya perjalanannya ditanggung oleh pemerintah, akan tetapi bagaimana dengan para pelajar dan mahasiswa yang notabenenya masih bergantung pada kiriman orang tua.

" Saya menilai hal ini sangat bertentangan dengan program pemerintah soal pelayanan publik dan bahkan program presiden jokowi soal pelayan yang murah dan terjangkau terutama untuk daerah Indonesia timur, semisalnya program Tol laut. Dengan tujuan menjaga kestabilitasan harga bahan sandang, pangan dan papan,".

Disisilain tambahnya, hal ini sedikit membingungkan, mengapa? Sebab jika kita runut kebelakang, pada saat moment liburan lebaran dan puasa, seperti yang terjadi dipulau jawa dan sekitarnya. Setiap kali ada arus mudik puasa dan lebaran, pemerintah selalu membantu masyarakat dengan meberikan pelayanan mudik gratis, bahkan menambah jumlah armada dan lainnya. Akan tetapi mengapa ketika moment Natalan dan Akhir Tahun, tidak ada sama sekali program tersebut.

" pertanyaanya adalah, ada apa dengan semua ini?, mengapa saat moment puasa dan lebaran, pemerintah melaksanakan program mudik gratis, bahkan sampai menambah jumlah armada untuk  meningkatkan mutu pelayanan. Akan tetapi mengapa ketika moment liburan Natal dan Tahun Baru, sama sekali tidak ada program tersebut, bahkan ketika harga tiket melambung tinggi melebihi ambang batas kewajaran, tidak ada satupun yang meresponi dan menyikapi hal tersebut. Apakah anak bangsa yang berasal dari Maluku dan Papua ini, bukan anak bangsa?," Ungkap  Lapalelo.

Dengan demikian, bagi saya lanjutnya, persoalan ini mesti segera ditanggapi dengan serius oleh semua pihak yang berkewenangan, sebab jika tidak maka akan memberikan pendidikan buruk bagi para pengelola maskapai, yang mana kedepannya kami khawatir, pihak maskapai akan memakai hal ini sebagai acuan untuk kemudian seenaknya menetapkan harga tiket pesawat.

" Sebab saya menilai ada hal yang cukup aneh dari fenomena kenaikan harga tiket pesawat yang luar biasa mahalnya ini, mengapa?, sebab biasanya harga tiket akan mahal jika terjadi Full Seat, atau penuhnya jumlah penumpang, akan tetapi jumlah Seat terbatas. akan tetapi untuk kasus kali ini, hingga saat inipun belum jelas dan belum ada kepastian mengapa hingga harga tiket menjadi begitu sangat mahal dan tidak terkendali,"Imbuhnya.

" saya menengaskan dan memintakan agar Pemda dan Pempus, dapat menindak lanjuti persoalan ini, sebab harga tiket pulang pergi Ambon- Jakarta saja, sudah dapat kami pakai untuk membeli 5 buah televisi, atau bahkan menjadi uang muka untuk membeli sebuah sepeda motor, sehingga hal ini sungguh sangat amat memberatkan bagi masyarakat," Tegas Lapalelo. (BN-07)

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: DPD PARKINDO:Pemda Harus Serius Sikapi Persoalan Mahalnya Harga Tiket Pesawat Rating: 5 Reviewed By: Redaksi Nusantara