Kunjungi Locus Stunting, Widya Makan Bersama Anak-Anak Stunting

Kunjungi Locus Stunting, Widya Makan Bersama Anak-Anak Stunting

Rabu, 12 Februari 2020,

Kufar, Bedahnusantara.com: Siang itu, terik matahari terasa menusuk kulit. Daerah Kufar Pantai sebuah perkampungan nelayan yang berjarak 54 kilometer dari Bula, ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur tampak bersolek.
Kunjungi Locus Stunting,
Widya Makan Bersama Anak-Anak Stunting


Sebelum masuk ke area kampung, pada kiri-kanan jalan penuh dengan baliho ucapan selamat datang Gubernur Maluku dan Duta Parenting (Perangi Stunting) Provinsi Maluku.

Kampung di Kecamatan Tutuktolu yang berada di pesisir pantai ini nampak ramai sekali siang itu, walaupun berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Maluku ditemukan 52 kasus anak-anak mengidap stunting atau gizi kronis. 

Meskipun dalam kesederhanaan, sambutan masyarakat begitu riuh dan meriah. Setidaknya ada delapan group tari-tarian dan group menyanyi menyambut kedatangan para tamu, sejak turun dari mobil hingga berjalan kaki menuju lokasi acara yang berjarak kurang dari 150 meter. Perjalanan kaki gubernur menuju lokasi acara beserta rombongan, diiringi tabuhan tifa dan rebana.

Hadirnya Duta Parenting Provinsi Maluku, Widya Murad Ismail, dalam kunjungan kali ini agak berbeda dari kunjungan-kunjungan sebelumnya saat ia turun ke daerah locus stunting. 

sebab dalam kunjungannya kali ini turut hadir pula sang suami, Gubernur Maluku Murad Ismail, Ketua DPRD Maluku Lucky Wattimury, Sekda Maluku Kasrul Selang, para pimpinan OPD di lingkup Pemprov Maluku, juga para pimpinan Balai UPT Kementerian PUPR di wilayah Maluku. Ikut pula Bupati dan Wakil Bupati Seram Bagian Timur beserta jajarannya.

Dalam kunjungan kali ini, Widya turun langsung berdialog dengan anak-anak stunting beserta orang tuanya. Selain memberikan pengarahan terkait pentingnya pemenuhan gizi seimbang untuk tumbuh kembang anak, Widya duduk lesehan di lantai dan makan bersama dengan mereka. Ia tampak menikmati, saat menyuapi satu per satu anak-anak stunting.

'"Ibu-ibu harus biasakan anak untuk makan makanan bergizi. Tidak perlu mahal, yang penting sehat. Harus ada ikan, dan sayur," imbau Widya.

Ia menyarankan kepada orang tua untuk tidak selalu membiasakan anak-anak mereka mengkonsusmi mie instan dan cemilan yang tidak sehat. Selain itu, dia mengajak agar pekarangan rumah dimanfaatkan untuk menanam sayur-mayur.

"Ada bantuan bibit sayur yang akan saya serahkan. Kalau bisa ibu-ibu dapat menamnya di pekarangan rumah agar mudah memperoleh sayur untuk keperluan masak keluarga," ajaknya.

Widya cukup lama berdialog dan menanyakan apa penyebab sehingga anak-anak penderita stunting di Kufar cukup tinggi. Terungkap dalam dialog itu, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya asupan gizi seimbang bagi anak termasuk 1000 hari kehidupan anak sejak dalam kandungan.

Usai berdialog Widya menyampaikan, permasalahan stunting disebabkan oleh pola makan yang tidak terbiasa dengan asupan makanan bergizi dan seimbang buat anak.

"Ternyata anak-anak mereka tidak terbiasa makan sayur. Tadi saya coba suapin, saya lihat reaksi anak-anak, dia ngeh. Itu artinya dia tidak terbiasa makan sayur di rumah," ungkap Widya.

Ia berharap, kunjungannya ke locus-locus stunting dan berinterkasi langsung dengan para orang tua yang anaknya menderita stunting, secara bertahap bisa merubah perilaku hidup mereka.

"Kita harus turun agar kita bisa mengedukasi mereka, mensosoalisaikan betapa pentingnya sayur dan makan ikan, apalagi daerah ini juga kampung nelayan," jelas Widya.

Dikatakannya tahun 2018, angka stunting di Maluku masih cukup tinggi yakni, 34 persen. Dengan demikian, dari 10 anak, terdapat 3 sampai 4 kasus anak yang menderita stunting.

"Apa yang saya lakukan ini bagian dari upaya untuk perangi stunting. Kita turun dan langsung mengedukasi para orang tua dan ibu hamil, karena ketidaktahuan mereka bahwa perlunya gizi yang seimbang bagi anak," tandas Bunda PAUD Maluku ini.(BN-04)
loading...

TerPopuler