Dugaan Manipulasi Hasil Rapat Rumah Tau Oleh Pemerintah Negeri Soya

Dugaan Manipulasi Hasil Rapat Rumah Tau Oleh Pemerintah Negeri Soya

15 Juli 2021,

Ambon,Bedahnusantar.com:Negeri saya sebagai salah satu Negeri adat yang selalu menjaga dan memelihara tatanan norma kebiasaan budaya dan adat istiadat agar tetap hidup dan lestari dari generasi ke generasi



Tentunya harus mendapat dukungan dan perhatian dari seluruh elemen masyarakat pemerintah negeri dan negara keberadaan lembaga adat atau saniri adalah salah satu pilar yang selalu menopang menjaga dan menjunjung tinggi hukum adat dan hak ulayat masyarakat pemilihan dan pergantian saniri Negeri Soya adalah hasil musyawarah atau pertemuan Rumah Tau yang kemudian diusulkan nama-nama perwakilan marga untuk duduk sebagai Saniri Negeri Soya.


Hal ini adalah sebuah mekanisme yang harus dilakukan berdasarkan hukum adat di Negeri Soya karena itu, keputusan rumah tahu adalah mutlak dan tidak boleh dianulir atau dirubah oleh siapapun dan wajib dilaksanakan oleh Pemerintah Negeri Soya hal ini sekaligus telah mencerminkan jiwa Pancasila sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.


Perwakilan Rumah Tau Rehatta H.H Rehatta yang didampinggi Carolis Rehatta mengatakan, terkait surat Pemerintah Negeri Soya nomor 360/1165/VI/2021 tentang perihal permohonan perpanjangan masa bakti anggota saniri negeri saya tanggal 30 juni 2001 yang telah ditandatangani oleh Raja Negeri Soya merupakan sebuah tamparan keras dan telah mencederai eksistensi Rumah Tau sebagai sebuah persekutuan adat atau kumpulan marga yang merupakan cikal bakal pelaksanaan demokrasi kerakyatan di negeri Soya.


Karena pergantian beberapa anggota sendiri berdasarkan hasil rapat di beberapa Rumah Tau, karena berhalangan tetap atau meninggal maupun sakit dan telah mengundurkan diri sama sekali tidak diakomodir oleh Pemerintah Negeri Soya.


"Hal ini terlihat dalam hasil pertemuan atau musyawarah yang telah dilakukan marga Rehatta dimana, terdapat penggantian anggota Saniri atas nama bapak Carolis Rehatta menggantikan Almarhum Jhoni Rehatta dan bapak H.H Rehatta menggantikan bapak B.G Rehatta

yang telah mengundurkan diri karena sakit. sementara,  bapak Andre atau diusulkan sebagai anggota BPD Negeri Soya," jelasnya dalam rilis yang dikirim kepada media ini, Kamis (15/7/2021).


Dia mengakui, dalam usulan nama-nama Anggota Saniri yang dikirim oleh Pemerintah Negeri Soya kepada bapak Walikota Ambon dalam hal ini Camat Sirimau sama sekali tidak mengakomodir nama-nama pengganti Anggota Saniri sebagaimana hasil pertemuan Rumah Tau.


"Untuk menguatkan surat Pemerintah Negeri sesuai nomor 360/1165/VI/2021 kemudian dilampirkan daftar hadir pertemuan Rumah Tau, supaya tergambar bahwa nama-nama yang diusulkan oleh Rumah Tau di negeri Soya telah sah dan sesuai hasil musyawarah atau rapat Rumah Tau, padahal daftar hadir tersebut tidak mencerminkan isi dari hasil musyawarah atau pertemuan rapat Rumah Tau masing-masing marga," ujarnya.



Dia mengatakan, surat nomor 360/1165/VI/2021 merupakan wujud arogansi sekaligus pemasungan terhadap hak-hak demokrasi yang selama ini terjaga dan hidup sesuai hukum adat di Negeri Soya, Karena itu selaku anak Negeri Soya yang mengerti aturan dan norma hukum adat Negeri Soya kami sangat menyayangkan sikap arogan Raja Negeri Soya yang sama sekali tidak mengindahkan hasil musyawarah atau rapat masing-masing Rumah Tau yang ada Negeri Soya 


"Sangat penting bagi Camat Sirimau dan bapak walikota Ambon untuk menolak dan tidak menanggapi surat permohonan dari Pemerintah Negeri soya sehingga, dapat memerintah Raja Negeri Soya untuk melaksanakan hasil rapat rumah-rumah tahu yang tergabung dalam Soa Pera dan Soa Erang sebagaimana hukum adat yang berlaku di Negeri Soya guna menghindari timbulnya konflik sosial di tengah-tengah masyarakat," paparnya.( BN-02)

TerPopuler