GMKI Desak Sinode GPM Dan RS Sumber Hidup Tuntaskan Hak Para Karyawan dan Nakes

GMKI Desak Sinode GPM Dan RS Sumber Hidup Tuntaskan Hak Para Karyawan dan Nakes

14 September 2021,

Ambon, Bedahnusantara.com: Persoalan pandemi Covid-19 di Maluku dan khususnya Kota Ambon, masih menjadi perkerjaan rumah yang belum juga dapat terselesaikan dengan baik.

Foto: Ketua Sinode GPM dan Ketua GMKI Cabang Ambon serta Papan Nama RS Sumber Hidup (RS GPM)


Selain persoalan penanganan penyebaran virus Covid-19, masalah lainnya juga tidak kalah pelik, yakni hak-hak para tenaga medis dan karyawan pada sejumlah rumah sakit.


Salah satunya ialah rumah sakit (RS) Sumber Hidup (Rumah Sakit GPM), yang mana selama ini setelah berjuang begitu rupa demi membantu menyelamatkan banyak nyawa dari serangan pandemi Covid-19. Ternyata masih banyak hak-hak para Karyawan dan tenaga kesehatan (Nakes) pada rumah sakit tersebut yang belum juga terbayarkan atau terselesaikan.


Berangkat dari persoalan terkait Tenaga medis dan karyawan RS GPM atau yang sekarang bernama RS Sumber Hidup, yang mengeluhkan perihal kesejahteraan dan hak-hak mereka belum terbayarkan oleh pihak RS Sumber Hidup. 


" Seperti lansir dari berbagai informasi dan publikasi sejumlah media bahwa sejak juni 2020 gaji pegawai dan tenaga me­dis pada RS Sumber Hidup, baru dibayarkan sebesar 70 persen saja dari total upah dan hak yang mesti mereka terima," Demikian disampaikan oleh Josias Tiven selaku Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon.


Menurutnya, Gereja Protesten Maluku (GPM) sebagai pemilik yayasan dan RS Sumber Hidup, harus serius melihat permasalahan yang terjadi pada internal RS Sumber Hidup atau yang dikenal dengan RS GPM ini, apalagi persoalan ini telah terjadi sejak tahun 2019 hingga tahun 2021 ini.


" Rumah sakit sumber hidup yang sebelumnya memiliki nama RS GPM, dahulunya merupakan rumah sakit dengan tata kelola serta manajemen keuangan yang baik sehingga menjadi kebanggaan warga Kota Ambon. Sayangnya, sejak tiga tahun terakhir RS Sumber Hidup mengalami kemunduran yang sangat signifikan sebagai akibat dari pergantian pimpinan yayasan dengan harapan agar dapat mengatasi masalah, akan tetapi sampai saat ini belum bisa diselesaikan," Ulasnya.


Hal yang memperihatinkan lainnya adalah bahwa semakin hari, semakin banyak  para dokter yang kemudian lebih memilih meninggalkan RS Sumber Hidup dan mencari rumah sakit lain untuk melakukan pengabdian dan pelayanan mereka, yang hal ini diduga diakibatkan oleh karena persoalan hak -hak dan upah mereka yang tidak terbayarkan sesuai dengan harapan.


" Wajar saja kalau banyak dokter yang berhenti kerja serta tenaga medis dan karyawan yang protes dan mengeluh, karena mereka telah menjalankan kewajiban secara baik dan maksimal akan tetapi hak-hak mereka tidak dipenuhi secara baik oleh pihak Managemen RS Sumber Hidup,” ujarnya.


Karena itu, Lanjutnya, pihak Sinode GPM harus mengambil langkah cepat dan konkrit untuk membenahi manajemen RS Sumber Hidup, bila perlu ketua yayasan diganti dengan orang yang lebih profesional agar persoalan ini bisa terselesaikan dengan baik dan dapat memulihkan kembali nama baik serta kinerja dari RS Sumber Hidup.


“ Kami mendesak pihak Sinode GPM untuk segera mengambil langkah konkrit terhadap persoalan ini, dengan membenahi tata kelola keuangan serta manajemen sistem yang ada pada RS Sumber Hidup, karena ini menyangkut nama baik GPM di mata warga Kota Ambon. Dan kalau bisa pemimpinnya juga diganti, akan tetapi jangan lagi dari kalangan politisi,” tegasnya.


Sebab, jika ada langkah cepat dan konkrit dalam menyelesaikan persoalan ini maka akan banyak pihak yang dirugikan bukan hanya tenaga medis dan karyawan RS Sumber Hidup, namun berdampak juga pada pasien-pasien serta orang-orang yang hendak berobat di sana. Tutupnya (BN-07)

TerPopuler